Slider

Top Categories

Travel

Travel
travel

Life Reflections

Technology

Food

Movie Review

Book Reviews

Relationships

Relationships
ghhfgfgh

Rabu, April 08, 2026

 

... 
yang patah tumbuh
yang hilang berganti
yang hancur lebur
akan terobati
...

Penikmat musik sebelum era fourtwnty di sekitar tahun 2019-an, biasanya sudah terpapar oleh lirik lagu dari salah satu band yang isinya cuma dua orang ini. Banda Neira.

Awal dengar mereka di era soundcloud, hingga akhirnya mereka mengumumkan bubar di tahun 2016 karena Rara Sekar menikah, dan Ananda Badudu melanjutkan kehidupannya sendiri. Barangkali waktu itu tidak ada cara agar Banda Neira tetap bertahan meski sendiri. Entah... Mungkin Ananda Badudu maunya badua? hehe

Sempat sangat galau seakan teman perjalanan tumbuh saya tiba-tiba pergi. Terselip mimpi suatu saat menyaksikan panggung mereka entah di mana. Minimal seumur hidup sekali, pikir saya. Eh, malah bubar.

Kemudian tiba-tiba 2023 Banda Neira kembali. Masih dengan Ananda Badudu, yang badua, tapi bukan dengan Rara. Tapi dengan Sasha. Siapa kah, Sasha? Kenapa Sasha? Apakah karena urutan abjad setelah R adalah S? Hmmm....

Sekali dengar, tentu mungkin karena karakter Rara adalah fondasi awal Banda Neira, sangat sulit untuk telinga ini beradaptasi dengan karakter Sasha. Liuk-liuk vokalnya Rara terlalu unik untuk ditimpa dan dilupakan begitu saja dari aransemen Banda Neira. 

Namun...

Sebagai manusia yang tumbuh, tidak bisa juga saya memaksa Sasha untuk jadi Rara hanya demi mengembalikan Banda Neira. Banda Neira hari ini adalah Banda Neira yang diracik oleh Ananda Badudu dan Sasha. Tidak adil rasanya jika Sasha tidak diberi kesempatan menjadi dirinya, hanya agar Banda Neira menjadi Banda Neira yang sebelumnya. 

Tumbuh memang begitu, kan? Saya pun perlu merevisi beberapa opini yang dulu rasanya masuk akal. Punya peran baru dalam hidup pun membuat kita menambah atau mengurangi berbagai hal. Hidup adalah perjalanan dinamis. 

Telat gak, sih, bahas ini selang 2 tahun?


Sabtu, November 08, 2025


Romantisasi pulang dengan satu nama kota di Indonesia ini, adalah sesatu yang gue juga nggak yakin sejak kapan dimulai. Tapi bagi sesiapapun yang pernah merasakan tinggal di sana, konon katanya punya perasaan yang sama tentang kota ini. 

Yogyakarta. Namanya di sebut-sebut dalam berbagai kutipan pendek, hingga lagu yang sempat populer sekitar tahun 2020-an. Jadi berasa lama ya, padahal 2020 baru 2 Tah... eh? 5 Tahun lalu?

Sampai 2 tahun lalu, gue masih menyimpan dendam tentang menyusuri sudut jogja jika kembali ke sana. Sampai tahun 2020 gue masih menyimpan Jogja sebagai tempat pulang yang suatu saat gue harus kembali ke sana. Sekarang? Jogja nggak menempati posisi yang sespesial itu di hati gue.

Barangkali, ini rasanya mendewasa. Bukan berarti gue udah tau juga kehidupan dewasa itu gimana. Tapi benturan dengan realita yang dihadapi tiap hari, bikin gue merasa harus lebih fokus sama apa yang ada di depan mata. Berkutat dengan hal-hal yang harus dipenuhi dan hal-hal lainnya. 

Semakin umur bertambah, seiring dengan tanggung jawab yang semakin besar untuk diemban, prioritas kita akan berubah perlahan. Tidak ada lagi yang lebih penting daripada apa yang hari ini masa depannya harus gue perjuangkan. Keluarga kecil ini. Apa lagi?

Yep. Siapa tau ada pembaca lama blog ini. Saat ini gue udah berkeluarga dan sudah dianugerahi satu malaikat kecil yang sedang gemas-gemasnya. Gemas karena bisa bikin emosi naik-turun seketika. Buat yang sudah punya anak, barangkali punya pengalaman yang sama. Next time mungkin akan gue tuangkan sebagai cerita di blog ini juga. Harus, sih. Siapa tau suatu saat dia nemuin blog ini.

Dengar lagu lama ini katanya;

"Ijinkan aku pulang ke kotamu."

'ku percaya, selalu ada sesuatu di Jogja...

Penggalan lagu ini mulai terasa tidak lagi relevan. Karena buat gue, nggak ada lagi pulang di Jogja. 


Kamis, November 06, 2025

 


Rasanya kepala jadi panas dan gampang capek buat mencerna semua informasi yang pendek dan sangat fast pace di media sosial. Gue nggak tahu apakah orang lain juga ngerasain hal yang sama. 

Hal ini bikin gue ngerasa kangen banget gue bisa baca tulisan, atau essay yang terasa personal. Tulisan yang nggak kerasa "media" banget. Jadilah akhirnya gue menjelajah kembali blog-blog yang dulu pernah gue kunjungi. Membaca beberapa tulisan mereka. Sembari berharap masih ada yang aktif update tulisan terbaru. Bisa tebak hasilnya gimana? 

Format tulisan, buat gue terasa punya level intimate yang beda sama format video. Walau memang harus diakui, eranya sudah berganti. Orang sudah mulai nggak punya waktu untuk berhenti sejenak. Format video lebih mudah untuk dinikmati karena bisa 'disambi'. Setidaknya kita bisa putar video sambil ngerjain hal lain. Sedangkan format tulisan bikin kita harus fokus sama apa yang dibaca. Dalam artian, kita nggak bisa multitasking sambil baca.

Mungkin lingkup blog yang gue tau memang sekecil itu, atau memang era blog personal sudah habis. Tapi cukup seneng karena masih ada Keribakeribo yang masih lumayan update. Kangen masa-masa itu.

Senin, Oktober 31, 2022

 

Haaa Kangen banget rasanya cerita panjang lebar di blog. Nggak tau deh, ya. Rasanya beda aja menulis di blog, dibanding media sosial. Mungkin karena hari ini semua orang terlalu buru-buru. Bahkan dalam hal menikmati waktu. Rebahan sambil scrolling pun cuma diisi dengan skip-skip konten yang kelihatan kurang menarik.

WELL ...

Kabar hari ini adalah tentang, masih struggling buat menjalakan Home Studio saya sendiri. Freelancing itu butuh banyak kompromi. Terlebih kalau masih merintis, di mana penghasilan tidak menentu. Kadang ada pun terasa nggak cukup. Tapi overall, say menikmati prosesnya karena ini adalah hal yang ingin saya lakukan. Setidaknya, I take my first step on the stair.

Terus, apa lagi...

kehidupan personal nggak perlu lah diceritain, ya. Rasanya gimana gitu. Mungkin nanti. Ketika kami sudah cukup seatle dan punya waktu luang lebih. Aamiin. 

Ya, pengen aja gitu mengaktifkan blog ini dengan cerita yang mungkin bisa teman-teman pembaca ambil manfaatnya. Nggak cuma sambat-sambatnya aja. Sambat mah di media sosial aja.

Nggak kerasa tahun depan tinggal 2 bulan lagi. Asli! Kerasa kayak waktu tuh lewat gitu aja sambil bilang "Mari, mas." Terus tancap gas lagi.

Tapi kalau ngomongin soal waktu, sejak dulu saya emang udah punya pemikiran kayak gini, sih:

"Apapun yang terjadi pada duniamu, waktu tidak akan menunggu." Beberapa waktu kemudian, dengan rilisnya Demon Slayer the movie, kalimat serupa juga diucapkan sama Main Character-nya. 

Intinya, sehancur apa pun kamu, sehebat apa pun luka yang kamu terima, sebesar apa pun kamu memohon, waktu nggak akan menunggu kamu bisa mengatasi semuanya.

Kebiasaan overthinking saya juga menghasilkan beberapa pemikiran tentang ketika dunia kita terasa berhenti karena rasa sakit, kehilangan, atau luka. Dunia tetap akan berjalan seperti biasa.

Pada akhirnya, hal-hal yang terjadi seakan membuat kita harus mampu bersikap "Ya ... Gimana lagi." Walau pas bilang gitu, di dada terasa nyeri.

Selasa, Juli 05, 2022

 

Memperhatikan si kecil yang baru saja genap berusia satu tahun belajar berjalan, membuat jiwa overthingking saya bergejolak. Mungkin karena apa-apa dipikirin, jadinya kepikiran terus. Saya pun sampai pada titik di mana, rasanya saya butuh menuangkan pemikiran ini. Takutnya lupa, dan kelak bisa diingat lagi.

Keseharian kami setelah hadirnya si kecil memang nggak akan jauh-jauh dari menemani tumbuh kembangnya. Dengan referensi yang kita punya, kita berusaha ngasih stimulus-stimulus yang bisa memaksimalkan perkembangannya dari segi sensorik dan motorik. Sampai saatnya dia mulai seneng dititahin. Tau kan dititah? Itu lho, yang dia badannya dipegang terus jalan. Pokoknya gitu, lah.

Melihat dia yang kadang jatuh terduduk atau tersungkur (tapi tertangkap kok), bikin saya kepikiran soal bagaimana sebenarnya hidup itu sendiri nggak pernah selesai ngajarin kita cara berjalan. Tentu dalam konteks yang berbeda. Kalau pas masih bayi, yang dilatih jalan itu fisiknya, sedangkan pas udah dewasa yang dilatih itu mental, dan mindset.

Melihat si kecil yang ragu-ragu saat melangkah, bikin saya bercermin sendiri. Walau mulut saya bilang,

"Ayo, dek. Berdiri lagi. Coba lagi, yuk."

Jauh di dalam batin saya juga berteriak pada diri sendiri,

"Sok-sok an nyuruh nyoba lagi. Lu nya sendiri gimana?"

Kita pasti pernah ada di fase itu atau pasti akan melewati fase itu. Pada waktunya, kita akan dihadapkan pada pilihan untuk tetap merangkak, atau belajar berjalan. KAdang saya kepikiran jangan-jangan si dedek belum mau jalan karena masih merangkak masih nyaman. Toh sama-sama bisa nyampe ke tujuan. 

Sama kayak kita, eh ... saya. Kadang suka ngerasa, ga apa-apa deh gini-gini aja. Yang penting masih bisa makan. Padahal masih ada banyak hal yang harus dipersiapkan di depan.

Masalahnya, merangkak membuat kita nggak bisa melompat ketika hidup menghadapkan kita pada situasi yang mengharuskan kita untuk itu. Merangkak nggak bisa membuat kita berlari cukup cepat untuk mengambil kesempatan yang semesta sediakan.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk agar kamu langsung gerak, langsung ngegas dan seolah bikin kamu ngerasa apa yang kamu jalani selama ini salah. No. Balik lagi ini pilihan. Dan saat kamu belajar berjalan, kamu kan nggak harus bisa langsung lari, kan? Toh ga bisa juga. Coba aja selagi kesempatannya masih ada. Kalau kamu baru bisa membuat satu langkah hari ini, kelak ada waktunya kamu bisa berlari. Cukup sadari bahwa syaratnya... Jangan berhenti.

Instagram

BARISTARASA | Designed by Oddthemes