Minggu, Februari 13, 2022


Sebenernya lo mau ngomongin apa, sih?

Kalau aja ada netijen yang ngomongin gue, mungkin mereka akan bilang gitu. Buat gue menentukan niche itu lumayan strugle. Bukan karena gue ga tau mau bahas apa. Tapi lebih ke, gue pengen bahas ini, tapi itu juga, tapi pengen style begini juga. Alias terlalu banyak yang pengen gue masukin ke ranah digital. Di sini gue mau jabarin satu-satu deh. Siapa tau lo juga bisa bantu.

Design

Jujur aja gue bukan lulusan DKV atau bahkan bukan alumni pelatihan desain. Desain yang sering gue bikin adalah hasil coba-coba secara otodidak. Satu hal yang bikin gue pengen bikin niche ini adalah, biar orang-orang terbuka bahwa desainer itu bukan cuma orang yang kerjanya duduk di depan komputer terus klik-klik doang. Termasuk juga bahas kenapa sebaiknya desain tuh begini-begitu yang nantinya nyambung ke poin ke dua.


Brand/Digital Marketing

Dari semua bidang desain, gue tertarik sama satu bidang ini. Branding. Kalau ngomongin branding, bahasannya bakal mencakup value, purpose, visi-misi, karakter hingga logo. Kalau digital marketing, gue tertarik karena background pendidikan gue di manajemen. Walau yang dipelajari waktu itu sampai sebatas marketing mix doang. Digital marketing jadi makin menarik karena menurut gue, dengan ngelakuin aktivitas marketing yang "bener" UMKM lokal punya kesempatan buat go nasional.


Quotes/Sajak

Buat yang ngikutin perjalanan gue sejak awal kenal media sosial, pasti apal (enak banget kan pelafalannya, coba ulang baca lagi, deh. :D). Gue suka ngerangkai kata-kata yang kadang nyentil perasaan. Kadang bikin quotes maksa kocak juga. KAta-kata jadi satu hal yang udah mendaging di gue sejak awal.

...

Nah, dengan mempertimbangakan ketiga hal tadi, kadang gue berada di situasi yang membuat gue berubah-ubah konsep konten -terutama di Instagram. Jadi terkesan kurang konsisten. Kalau menurut lo, asiknya digimanain ya?



Rabu, Desember 15, 2021

Nggak terasa makin dekat ke usia kepala tiga. Setelah waktu berlalu, sembari gue mencerna berbagai cerita yang pernah gue lalui dan gue dapet dari orang-orang. Gue mengerti beberapa hal yang mungkin dulunya nggak bisa gue sadari karena masih belum sampai pada fasenya.

Jadi di tulisan kali ini gue mau sedikit berbagi tentang 3 hal yang mungkin butuh lo mengerti ketika hidup rasanya begitu berat dijalani.

3 hal yang lo temui saat mendewasa

  • Nggak semua orang harus mengerti

Bisa jadi lo baru aja patah hati. Entah karena dikhianati, ditinggal pergi ataupun karena hubungan yang sudah nggak mungkin diperjuangkan lagi. Lo depresi, lo stress, lo nangis atau suka menyendiri. Lo akan dengar beberapa orang di sekitar lo akan mengatakan hal-hal yang seolah mereka paling tau dan pernah paling menderita. 

Kenyataannya mereka sebenarnya ngga tau. Jadi kalau lo memang butuh bersedih, ya sedih aja. Nangis aja. Seperti luka-luka lainnya. Kalau tangan lo teriris pisau, pedih kan?


  • Hak kita bersinggungan dengan hak orang lain
 
Hak gue buat dengerin musik cadas atau nonton video YouTube yang gue suka dengan volume kenceng malam hari. Tapi di situ ada juga hak orang lain buat bisa istirahat dengan nyaman. Ketika lo sadar dengan hal ini, at least lo bakal lebih memilih dengerin musik atau nonton video dengan menggunakan headset.


  • Tips cinta nggak make sense
"Anak muda jaman sekarang lucu, ya."

Nggak semua orang sadar. Padahal dari segi usia udah cukup. Tapi kalau lo nemu artikel ini dan baca sampai sini, gue cuma mau bilang kalau tips cinta yang bertebaran di internet itu nggak make sense. Artikel-artikel seperti "5 cara dapetin dia", "6 langkah bikin dia jatuh cinta", "4 tips bikin dia jatuh cinta pada pandangan pertama" dan lain sebagainya, nggak ada yang make sense!

Karena pada akhirnya lo berusaha ngedeketin dia atau menarik perhatiannya dengan menjadi sosok yang dia suka. Bukan sebagai sosok elo.

_____________

Mungkin masih banyak yang belum tercantum. Kalau menurut lo pembahasan  ini menarik, coba kasih tau gue buat lanjutin pembahasan ini, atau lo mau cerita versi lo? Silakan!

Selasa, Desember 07, 2021


Kerjain apa yang lo suka, atau sukai apa yang lo kerjakan. Rumus simple yang nggak semua orang sanggup buat ngejalanin. Salah satunya gue. Tepat akhir Agustus 2021, gue resmi jadi pengangguran.

Sejak sebelumnya, gue emang udah kepikiran buat resign. Salah satu di antara alasannya karena gue ngerasa gue ga bisa makin berkembang di sana. Inisiatif gue, ide gue untuk bikin perusahaan bisa ngasih performance yang lebih baik ke customer dan karyawan kurang didengar. Jadi ya. Ya udah. Buat sedikit gambaran, ini bukan corporate gede, ya. Kayak usaha di daerah. 

Siapa tau lo adalah pemilik bisnis skala kecil yang mau scale up, gue harap hal-hal ini bisa lo perhatiin. Karena gue sendiri menemukan banyak business owner yang mengabaikan hal ini sehingga bisnisnya jalan dengan cara serampangan. Hasilnya mungkin cuan di awal, tapi lama-kelamaan akan merugikan baik dari segi performa bisnis atau performa karyawan. Mengutip apa yang terjadi di drama korea StartUp. Ketika lo berjalan tanpa peta, untuk jangka pendek itu akan menyenangkan. Tapi di jangka panjang,  lo ngga cuma akan menyusahkan diri lo sendiri tapi juga orang lain.

Begitu pula lo di bisnis. Meskipun lo running di awal tanpa peta, ketika lo memang pengen usaha lo lebih maju, coba deh perhatiin beberapa hal ini:

  • Know your value

Setelah nganggur, gue membuka jalan cuan dengan menjadi freelancer designer. Ketika gu bertemu dengan beberapa calon klien yang minta buat gue kelola media sosialnya, gue selalu punya pertanyaan template: "Value bisnis lo apa?" Dan hampir selalu dijawab dengan "Ga tau". Ini gawat nih. Nggak cuma dari sisi marketing. Tapi dari juga dari sisi lo punya orang di bawah lo. Kalau kaptennya ga tau mau kemana, gimana karyawan bisa ngasih performa terbaiknya?

  • Bukan cuma soal gaji

Gaji tinggi bukan jaminan karyawan lo akan bekerja lebih baik. Gue percaya selain butuh uang, pegawai juga punya cita-citanya sendiri. Dalam kasus gue, gue pribadi meski dengan gaji yang sama gue bisa aja kasih performa yang lebih baik kalau value gue yang lain bisa dipenuhi. Karena gue pengen evolve bareng. Cuma karena gue juga ga tau itu kapal mau dibawa ke mana, ya gimana gue bisa "into" di pekerjaan? 

  • Kenal gejala awal

Kalau lo pernah nyoba buat rekrut pekerja, mungkin lo udah bisa baca karakter ini orang bakal oke ga kerja di tempat lo. Gue sendiri pernah terlibat dalam proses rekrutmen di bisnis temen gue (yang sedang gue bantu juga proses rebranding-nya). Beberapa kali ada yang nanyain lowongan kerja, dan dari cara mereka ngirim DM aja udah ketahuan "niat" kerjanya gimana. 

Kita bakal ngobrolin hal yang lebih detail lain kali. Karena sebenarnya dalam bisnis banyak banget pernak-pernik yang kalau dijabarin bakal jadi buku berjilid-jilid. Tapi tiga hal ini salah dari banyak yang sangat basic. Terutama berkaitan sama sumberdaya manusia yang lo punya atau akan lo punya. Ketika lo punya value yang lo pegang, lo bisa ukur orang yang ngelamar di tempat lo ini bisa ga ngedukung atau berpegang pada value yang sama. Di satu sisi, apakah bisnis lo bisa ngedukung karyawan atau calon karyawan lo buat memenuhi value-nya yang nggak cuma soal gaji aja. 

At least gue berharap bisnis lokal bisa berkembang ga cuma jadi pemain lokal aja. Karena di era sekarang persaingan makin ga terbatas dengan hadirnya e-commerce, onlineshop hingga brand-brand gede yang mulai masuk ke daerah. Di sisi lain biar gue sebagai freelancer di bidang creative juga bisa cepat kaya, gitu. Ya kali desain logo cuma 5.000,- selamanya?

Selasa, November 30, 2021

Kalau aja nggak mulai blogging, menuliskan apa yang gue rasain, bisa saja gue masih terdampar di sana. Perjalanan yang entah ke mana muaranya. Kafe temaram sepertinya memang sebuah tempat di mana akhirnya satu persatu kisah kusut terurai. Ujung yang entah di mana mulai terlihat rimbanya. Walau dalam prosesnya harus melewati berbagai drama.

Melepaskan memang serumit itu. Dari perjalanan itu aja gue bisa mulai mengerti kenapa ketika seseorang kehilangan, ada sesak yang tertahan. Ya, mana ada sih yang bisa baik-baik aja dengan perpisahan terbaik sekali pun?

Apa? Mau banget nih di-spill??


Gue masih bisa lho, ceritain gimana gue ketemu dan gimana perasaan itu ada buat dia. Masih bisa! Dan kalau lo tanya gimana rasanya sekarang? Gue juga bisa jawab kalau perasaan gue biasa aja. Seperti halnya ketika gue menceritakan kenakalan gue di masa kecil pas nyolong-nyolong nyobain rokok. Kayak udah jadi bagian dari cerita hidup  yang perlu diyaudahin dan kalau perlu untuk beberapa bagian gue ketawain. 

Kalau ditarik lagi, perasaan itu bisa gue release, setelah gue cukup intens mengungkapkan semuanya lewat tulisan (kali aja di sini ada yang pernah baca buku terbitan indie gue). Perasaan setelahnya juga yang membuat gue punya pandangan yang agak berbeda tentang hubungan yang berakhir, serta cara menyikapi sudah. Perasaan yang membuat gue nggak bisa related sama quotes-quotes yang menyudutkan mantan.

Karena pada akhirnya, mencintai memang perkara kepada siapa kita rela dilukai. Ketika lo milih dia, lo harus siap untuk juga terluka karena dia. Sebab hubungan nggak kayak wahana gembira. Melainkan kehidupan yang sepaket dengan berbagai cara semesta hadirkan luka.

Eh. Ternyata masih bisa lho, bikin kalimat berrima.

Rabu, November 24, 2021


Seperti yang sudah gue ulas di postingan sebelumnya (klik ini kalau mau baca), kafe temaram itu sudah seperti jejak perjalanan yang kayaknya kalau dibuang rasanya sayang. Ada banyak kisah tertuang. Untuk mengingat lagi betapa menulis dapat menyulut senang.

Setelah membaca-baca ulang, rasanya gue mulai mengerti apa yang saat itu terjadi. Kenapa gue bisa sebegitunya menuliskan kata-kata yang bikin beberapa orang berkomentar "Ih bikin baper." "Kata-katanya itu loh." dan sebagainya.

Bahan bakar gue waktu menulis di kafe temaram adalah harapan. Karena waktu itu memang satu-satunya hal yang bisa gue lakukan dalam menyikapi perasaan, adalah berharap. Bukannya berjuang, elaaahhh dasar bego. Ngarep doang ga berjuang buat apee! E tapiii tapi...

Mungkin memang harus begitu. Kalau gue ngga pernah mengalami hal itu kayaknya gue juga ga akan pernah ada di posisi sekarang. Dan berkat kata-kata yang pernah gue tuliskan, ketika gue baca-baca ulang, sedikit banyak gue bisa ambil pelajaran. Karena terkadang seiring waktu berjalan, interpretasi kita terhadap sesuatu itu berkembang. Berjalannya waktu gue ngerasa sedang melihat tulisan-tulisan itu dengan berbeda nasi padang. Sudu pandang maksudnya. Maaf, maksa.

Beberapa tulisan di blog ini untuk mengawali proses kembali, kayaknya bakal gue dedikasikan untuk blog lama gue itu. Setelah ini mungkin gue bakal menuliskan beberapa hal untuk siapa pun yang pernah ada di sana. Sebagai bentuk penghargaan sebagai yang pernah hadir sebagai pembelajaran. Dan barangkali, bisa jadi referensi untuk kamu yang sedang mengalami.

Tapi...
Emangnya masih ada yang baca blog, hari ini?

Instagram

BARISTARASA | Designed by Oddthemes